Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah
dikenal secara umum di seluruh dunia, merupakan penyakit yang disebabkan oleh
virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit DBD
merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena angka
insidensinya terus meningkat dan
penyebarannya semakin luas.
Saat ini
diperkirakan ada 50 juta infeksi dengue yang terjadi di seluruh dunia
setiap tahun. Diperkirakan untuk Asia Tenggara terdapat 100 juta kasus Demam
Dengue (DD) dan 500.000 kasus DBD yang memerlukan perawatan di rumah sakit, dan
90 % penderitanya adalah anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun dan jumlah
kematian oleh penyakit DBD mencapai 5 % dengan perkiraan 25.000 kematian setiap
tahunnya.
Penyakit ini banyak dijumpai terutama
pada anak-anak di bawah usia 15 tahun, tetapi dalam dekade terakhir ini
terlihat ada kecenderungan peningkatan proporsi penderita DBD pada golongan
dewasa dan tidak dikemukakan perbedaan signifikan dalam kerentanan terhadap
serangan DBD antar gender.
Sejak pertama kali ditemukan di
Indonesia, DBD menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah kasus
maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi kejadian
luar biasa (KLB) setiap tahun. Pada tahun 2011 jumlah kasus DBD dilaporkan
sebanyak 65.432 kasus dengan angka insidensi atau Inciden Rate (IR) 27,56 per
100.000 pendududk dan jumlah kematian sebanyak 595 dengan Case Fatality Rate
(CFR) 0,91 %. Provinsi dengan IR tertinggi pada tahun 2011 adalah Sulawesi
Tengah sebesar 76,16 per 100.000
penduduk disusul Provinsi Bali 75,42 per 100.000 penduduk dan Provinsi DKI
Jakarta 68,32 per 100.000 penduduk. Sedangkan CFR tertinggi di provinsi
Gorontalo sebesar 8,70 % disusul Nusa Tenggara Timur 2,63 % dan Jambi 2,13 %. Dari 33 propinsi yang ada di
Indonesia DBD telah melanda di 384 atau 77,26 % Kabupaten/Kota pada tahun 2009,
400 atau 80,48 % di tahun 2010 dan pada tahun 2011 sebanyak 374 atau 75,25 %.
Departemen Kesehatan telah menerapkan
berbagai program pemberantasan penyakit DBD. Program ini diarahkan pada
peningkatan kondisi lingkungan yang sehat, karena sehatnya keadaan lingkungan
akan berpengaruh secara tidak langsung terhadap kepadatan populasi vektor
penyakit DBD. Faktor lingkungan berupa keberadaan container air, baik yang
berada di dalam maupun diluar rumah yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk
Aedes aegypti sebagai vektor penyakit DBD, merupakan faktor yang sangat
berperan terhadap penularan ataupun terjadinya
kejadian luar biasa penyakit DBD. Terdapat hubungan antara kasus DBD dengan
kepemilikan sarana penampungan air keperluan rumah tangga sebelum dimasak serta
kondisi sanitasi rumah dan jumlah container terhadap kejadian DBD.
Pada sekolah dasar di Kota Semarang kepadatan
jentik Aedes aegypti dan praktek Pemberantasan Sarang Nyamuk – Demam Berdarah
Dengue (PSN-DBD) dengan kejadian DBD
saling berkaitan. Agar container terjaga kebersihannya dan tidak menjadi tempat
berkembang biak nyamuk sudah selayaknya dibersihkan dengan cara mengurasnya
karena ada hubungan antara frekwensi dan cara pengurasan bak mandi/wc dengan
container index. Kondisi sanitasi lingkungan rumah tangga dengan keberadaan
jentik Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Praktek PSN-DBD memberikan
kontribusi efektif sebesar 42,92 % terhadap keberadaan jentik Aedes aegypti dan
Aedes albopictus, sedangkan keberadaan tempat sampah memberikan kontribusi
keberadaan jentik Aedes albopictus sebesar 47,27 %.
1. Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Pengertian
Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemoraghic Fever (DHF) ialah penyakit
yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes
aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh
pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di
atas permukaan air laut.
Demam
berdarah dengue adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis,
dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan
oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus flavivirus, family
flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi silang
dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi.
DBD disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti.
Demam
berdarah dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue.
Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan mengakibatkan kematian terutama
pada anak serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah.
b. Penyebab
Penyakit Demam Berdarah
DBD
disebabkan oleh virus dengue yang sampai saat ini dikenal dengan empat serotype
virus dengue yaitu DENV 1, DENV 2, DENV 3, DENV 4. Masa inkubasi penyakit demam
berdarah dengue diperkirakan <7 hari. Penularan penyakit demam berdarah
dengue umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti meskipun dapat
juga ditularkan oleh Aedes albopictus.
Cara
penularan virus dengue yaitu virus masuk ketubuh manusia melalui gigitan nyamuk
selanjutnya beredar dalam sirkulasi darah. Virus beredar di darah dua hari
sebelum demam, fase ini disebut fase veraemia. Apabila nyamuk yang belum
terinfeksi menghisap darah manusia dalam fase viremia maka virus akan masuk
kedalam tubuh nyamuk dan berkembang selama periode 8-10 hari sebelum virus siap
ditransmisikan kepada manusia lain. Setelah masa inkubasi instrinsik selama
3-14 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala awal penyakit secara
mendadak, yang ditandai dengan demam, pusing, myalgia (nyeri otot), hilangnya
nafsu makan dan berbagai tanda atau gejala non spesifik seperti nausea
(mual-mual), muntah dan rash (ruam pada kulit). Viraemia biasanya muncul pada
saat atau persis sebelum gejala awal penyakit tampak dan berlangsung selama
kurang lebih 5 hari setelah dimulainya penyakit. Saat-saat tersebut merupakan
sumber infeksi karena penderita dalam masa sangat infektif untuk vektor nyamuk
yang berperan dalam siklus penularan.
Rentang
waktu yang diperlukan untuk inkubasi ekstrinsik tergantung pada kondisi
lingkungan terutama temperatur sekitar. Siklus penularan virus dengue dari
manusia - nyamuk manusia dan seterusnya (ecological of dengue infection).
c. Jenis
Vektor dan Karakteristik Aedes Aegypti
1) Siklus
hidup nyamuk Aedes aegypti
Telur
nyamuk Aedes aegypti akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari. Tempat
yang sesuai dengan kondisi optimum adalah di dalam air dengan suhu 20-40oC.
Sementara kecepatan pertumbuhan dan perkembangan larva dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti temperatur, tempat, dan kandungan zat makanan yang ada
di dalam tempat perindukan. Pada kondisi optimum larva berkembang menjadi pupa
dalam waktu 4-9 hari, kemudian pupa menjadi nyamuk dewasa dalam waktu 2-3 hari.
Jadi pertumbuhan dan perkembangan dari telur, larva, pupa sampai dewasa memerlukan
waktu kurang lebih 7-14 hari.
a) Telur
Telur
Aedes aegypti berbentuk lonjong, memiliki panjang 0,4-0,6 mm dan berwarna putih
saat dikeluarkan oleh nyamuk betina dewasa. Lima belas menit kemudian, telur
berubah menjadi abu-abu dan setelah 40 menit menjadi hitam. Tiga atau empat
hari setelah menghisap darah, telur diletakkan satu per satu oleh nyamuk betina
pada permukaan dinding yang basah, tepat di atas permukaan air di dalam
container. Setiap seekor nyamuk Aedes aegypti betina mampu bertelur hingga
300-740 butir telur/ekor dalam interval waktu 4-5 hari.
Sifat-sifat
telur nyamuk Aedes aegypti sebagai berikut:
1) Setiap
kali nyamuk betina bertelur, mengeluarkan telur ± 100 butir yang diletakkan
satu-satu pada dinding bejana.
2) Telur
warna hitam, ukuran ± 0,8 mm, di tempat kering (tanpa air) dapat bertahan
sampai 6 bulan. Telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu kurang 2 hari
setelah terendam air.
Perkembangan
embrionisasi biasanya berlangsung selama 48 jam dalam lingkungan yang hangat
dan lembab. Setelah perkembangan embrionisasi lengkap, telur akan tahan
terhadap kekeringan selama periode waktu yang lama (lebih dari 1 tahun) dalam
bentuk dorman. Telur segera menetas dalam beberapa menit setelah tergenang air,
namun tidak semua telur menetas menjadi larva dalam waktu yang bersamaan.
b) Larva
Lebih
lanjut dijelaskan telur menetas dan menjadi jentik dan mengalami empat
tingkatan atau stadium yaitu waktu antara pergantian kulit kepergantian kulit
selanjutnya. Bentuk jentik antar stadium disebut instar. Waktu pertumbuhan dari
masing-masing stadium adalah sebagai berikut:
1) Stadium I
: ± 1 hari
2) Stadium
II: ± 1- 2 hari
3) Stadium
III: ± 2 hari
4) Stadium
IV: ± 2 – 3 hari
Perkembangan
larva melalui 4 stadium yaitu instar-1, instar-2, instar-3 dan instar-4. Larva
Aedes aegypti bergerak sangat lincah dan sensitif terhadap rangsangan getar dan
cahaya. Bila ada rangsangan, larva segera menyelam selama beberapa detik
kemudian muncul kembali ke permukaan air. Larva mengambil makanan di dasar
container sehingga disebut bottom feeder. Pada saat larva mengambil oksigen
dari udara, larva menempatkan sifonnya di atas permukaan air sehingga
abdomennya terlihat menggantung pada permukaan air.
Larva
akan berkembang menjadi pupa dalam waktu 5-7 hari apabila populasi larva tidak
padat dan cukup tersedia makanan. Larva Aedes aegypti terdiri atas kepala yang
cukup besar, toraks dan abdomen. Pada ujung abdomen terdapat segmen anal dan
sifon (corong nafas). Larva instar-4 Aedes aegypti mempunyai tanda khas yaitu
pelana yang terbuka pada segmen anal, seberkas rambut pada sifon, dan gigi-gigi
sisir yang berduri lateral pada segmen abdomen ke-7, sedangkan larva Aedes
albopictus mempunyai gigi-gigi sisir tanpa duri-duri lateral.
Perbedaan
larva Ae. aegypti dan Ae. albopictus diperlihatkan pada bagian posterior larva
Ae. aegypti dengan tanda khas duri-duri lateral pada gigi-gigi sisirnya, dan
tanpa duri lateral pada Ae. Albopictus.
Jentik
berkembang menjadi pupa, pada tingkat pupa ini tidak memerlukan makanan, tetapi
perlu udara. Waktu pertumbuhan menjadi nyamuk adalah 1-2 hari. Pada umumnya
nyamuk jantan menetas lebih dahulu daripada nyamuk betina.
Sifat-sifat
jentik nyamuk Aedes aegypti sebagai berikut (Sumantri, 2012):
a. Jentik
yang menetas dari telur akan tumbuh menjadi besar, panjang 0,5-1 cm2.
b. Selalu
bergerak aktif di dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas
permukaan air untuk bernapas, kemudian turun kembali ke bawah dan seterusnya.
c. Pada waktu
istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air, biasanya berada
di sekitar dinding tempat penampungan air.
d. Setelah
6-8 hari jentik akan berkembang menjadi kepompong.
e. Jentik memerlukan
4 tahap perkembangan. Pengaruh makanan, suhu menentukan kecepatan perkembangan.
Perkembangan jentik sampai imago pada
kondisi optimal memerlukan waktu 7 hari.
Ciri
khas larva Aedes aegypti sebagai berikut:
a. Adanya
corong udara pada segmen terakhir.
b. Pada
segmen-segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambut-rambut berbentuk kipas atau
bulu palmata (palmati lavis).
c. Pada
corong udara atau sifon terdapat pecten.
d. Seberkas
rambut akan dijumpai pada corong udara (sifhon)
e. Pada
setiap sisi abdomen segmen kedelapan ada comb scales sebanyak 8-21 atau
berjejer 1-3.
f. Bentuk
individu comb scale seperti duri yang memiliki duri lateral.
g. Pada sisi
thoraks terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva.
h. Corong
udara atau sifhon dilengkapi dengan pectin.
c) Pupa
Setelah
larva melewati pergantian kulit keempat, maka terjadi pupasi. Pupa berbentuk
agak pendek, tidak makan, tetapi tetap aktif bergerak di dalam air terutama
bila diganggu. Pupa berenang naik turun dari bagian dasar ke permukaan air.
Bila perkembangan pupa sudah sempurna, yaitu sesudah 2-3 hari, maka kulit pupa
pecah dan nyamuk dewasa keluar serta terbang.
Pupa
Aedes aegypti terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu (sefalotoraks)
dan abdomen. Di bagian sefalotoraks terdapat sepasang corong nafas. Di bagian
posterior terdapat sepasang pengayuh berbentuk oval. Selongsong pupa Aedes
aegypti dapat dibedakan dengan selongsong pupa Aedes albopictus secara
mikroskopik dengan memperhatikan jumbai yang berada di bagian tepi pengayuh
(padel). Aedes aegypti mempunyai jumbai berbentuk seperti duri pendek,
sedangkan jumbai Ae. albopictus berbentuk seperti bulu panjang. Selain itu,
pada pupa Aedes aegypti, bulu no.7 di ruas abdomen ke VIII bercabang banyak,
sedangkan pada Ae.albopictus bulu no.7 pada ruas abdomen ke VIII tidak
bercabang. Adapun selongsong pupa Aedes aegypti dapat pula dibedakan dengan
pupa nyamuk lain seperti culex dan Anopheles, karena baik culex maupun
Anopheles tidak mempunyai jumbai, atau memiliki jumbai tetapi bagian tepi
pengayuh sangat halus.
Perbedaan
pupa Ae. aegypti dan Ae. albopictus diperlihatkan pada Bagian posterior
selongsong pupa Ae. Aegypti khas dengan duri-duri pendek di bagian tepi pengayuhnya, sedangkan
pada Ae. albopictuskhas dengan bulu-bulu panjang di bagian tepi pengayuhnya.
Penambahan
nyamuk-nyamuk dewasa yang baru menetas pada populasi nyamuk dewasa sangat
berbeda untuk macam jenis container. Perkiraan munculnya nyamuk dewasa yang
baru menetas didasarkan pada jumlah pupa yang ada.
Angka
perkiraan ini disebut Pupae Index atau PI
Jumlah
pupa
Pupae
Index (PI) = ___________________________
x 100
Jumlah rumah yang diperiksa
d) Nyamuk
dewasa
Pupa
Aedes aegypti jantan menetas lebih dahulu dari pupa betina. Setelah keluar dari
pupa, nyamuk istirahat di kulit pupa untuk sementara waktu. Pada saat itu sayap
meregang menjadi kaku dan kuat sehingga nyamuk mampu terbang untuk menghisap
darah. Nyamuk jantan tidak pergi jauh dari tempat perindukan karena menunggu
nyamuk betina menetas dan siap berkopulasi. Sesudah kopulasi, Aedes aegypti
betina menghisap darah manusia yang diperlukannya untuk pembentukan telur.
Mulai dari nyamuk menghisap darah sampai telur dikeluarkan memerlukan waktu 3-4
hari. Jangka waktu tersebut disebut satu siklus gonotropik.
Bagian
tubuh nyamuk dewasa terdiri atas kepala, toraks dan abdomen. Tanda khas Aedes
aegypti berupa gambaran lyre pada bagian dorsal toraks (mesonotum), yaitu
sepasang garis putih yang sejajar di tengah dan garis lengkung putih yang lebih
tebal pada tiap sisinya sehingga menyerupai alat musik harpa, sedangkan
mesonotum Ae.albopictus khas dengan pita longitudinal berwarna putih. Aedes
aegypti mempunyai probosis berwarna hitam, skutelum bersisik lebar berwarna
putih dan abdomen berpita putih pada bagian basal. Ruas tarsus kaki belakang
berpita putih.
Kebiasaan
menghisap darah nyamuk Aedes aegypti adalah pada siang hari (day biter), yang
puncaknya antara pukul 08.00-10.00 dan
antara 15.00-17.00. Nyamuk betina biasanya menggigit berulang kali pada banyak
orang (multiple biter) pada saat orang aktif sampai kenyang darah. Bila nyamuk terganggu pada waktu menghisap
darah, nyamuk akan menggigit kembali orang yang sama atau lainnya sehingga
virus dipindahkan dengan cepat kepada beberapa orang. Umumnya nyamuk betina akan
mati dalam 10 hari, tetapi masa tersebut cukup bagi nyamuk untuk inkubasi virus
dengue (3-10 hari) dan menyebarkan penyakit DBD.
Ciri-ciri
nyamuk Aedes aegypti adalah sebagai berikut:
1) Berwarna
hitam dan belang-belang putih (loreng) pada seluruh tubuhnya.
2) Berkembang
biak ditempat penampungan air (TPA) dan barang-barang yang memungkinkan
tergenang air: bak mandi/WC, tempayan, drum, tempat minum burung, vas/pot
bunga, kaleng bekas, ban bekas, botol plastik yang dibuang disembarang tempat.
3) Nyamuk Aedes
aegypti tidak dapat berkembang biak diselokan/got atau kolam yang airnya
berhubungan langsung dengan tanah.
4) Biasanya
menggigit (menghisap darah) pada pagi hari sampai sore hari.
5) Mampu
terbang sampai 200 meter. Perkembangan dari telur menjadi nyamuk dewasa
memerlukan waktu 7-10 hari. Tiap 2 hari nyamuk betina menghisap darah manusia
untuk bertelur. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan.
Kemampuan
terbang nyamuk betina rata-rata 40 meter maksimal 100 meter, namun secara pasif
karena faktor angin atau terbawa kendaraan dapat berpindah lebih jauh. Nyamuk
Aedes aegypti dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian daerah + 1.000
meter dari permukaan laut, di atas ketinggian 1.000 meter tidak dapat
berkembang biak karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah,
sehingga tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk.
2. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Keberadaan Jentik Nyamuk
Eksistensi
nyamuk Aedes aegypti di alam dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan lingkungan
biologik:
a. Pengaruh
Lingkungan Fisik
Lingkungan
fisik ada bermacam-macam misalnya tata rumah, macam container, ketinggian
tempat dan iklim. Jarak antar rumah ke rumah lain turut mempengaruhi keberadaan
jentik, karena semakin dekat jarak rumah semakin mudah nyamuk menyebar ke rumah
di sebelahnya.
Iklim
adalah salah satu pokok lingkungan fisik yang terdiri dari suhu udara,
kelembaban udara, curah hujan, angin, jenis tempat penampungan air, kebiasaan
menutup penampungan air dan frekuensi menguras tempat penampungan air
mempengaruhi keberadaan jentik vektor penyakit DBD:
1) Pengaruh
suhu udara rata-rata suhu untuk pertumbuhan nyamuk adalah 250C –310C.
2) Pengaruh
kelembaban udara: kelembaban udara akan menyebabkan pengaruh uapan air dari
dalam tubuh nyamuk, yang menyebabkan keringnya cairan tubuh nyamuk, penguapan
adalah salah satu musuh nyamuk.
3) Pengaruh
hujan/musim. Hujan mempengaruhi dengan dua cara yaitu menyebabkan kenaikan
kelembaban udara dan menambah jumlah tempat penampungan air.
4) Pengaruh
angin: angin tidak nampak berpengaruh pada penularan nyamuk Aedes aegypti,
secara tidak langsung pengaruh angin adalah pada jarak terbang nyamuk.
5) Jenis Tempat
Penampungan Air (TPA): jenis tempat penampungan air yang dipakai sehari-hari
antara lain tempayan, drum, ember plastik dan sebagainya yang terdiri dari
bahan yang berbeda. Perbedaan bahan pembuatan penampungan air seperti adanya
permukaan kasar sangat disenangi nyamuk untuk meletakkan telur-telurnya.
6) Kebiasaan
menutup tempat penampungan air: kebiasaan menutup tempat penampungan air
berkaitan dengan peluang dari nyamuk Aedes aegypti untuk hinggap dan
menempatkan telur – telurnya. Pada tempat penampungan air yang senantiasa
tertutup rapat, maka peluang nyamuk untuk bertelur menjadi kecil sehingga
mempengaruhi keberadaannya di tempat penampungan air tersebut.
7) Frekuensi
menguras tempat penampungan air: tempat penampungan air yang selalu dikuras
dengan teratur akan menyebabkan kelangsungan siklus hidup nyamuk menjadi
terganggu. Dengan siklus hidup yang berlangsung sekitar seminggu, maka bila
melakukan pengurasan setiap minggu secara teratur akan memutuskan siklus
perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti pada tempat penampungan air yang
dipergunakan rumah tangga.
b. Pengaruh
Lingkungan Biologik
Pada
container air yang lama biasanya terdapat pathogen dan parasit yang
mempengaruhi pertumbuhan larva dari instar ke instar (stadium). Tumbuhan yang
banyak di sekitar rumah mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan dalam rumah.
Survei
jentik untuk mengetahui situasi vektor penyakit DBD di suatu kawasan di
lingkungan pemantauan vektor DBD yang mencakup kegiatan survei di rumah-rumah.
Kegiatan survei yang biasa dilakukan adalah survei nyamuk dewasa, survei jentik
dan survei perangkap atau ovitrap. Adapun untuk survei jentik dilakukan dengan
cara sebagai berikut:
a) Semua
tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti diperiksa dengan mata telanjang untuk mengetahui ada tidaknya jentik.
b) Untuk
memeriksa tempat penampungan air (TPA) yang berukuran besar seperti: bak mandi,
tempayan, drum dan bak penampungan air lainnya, jika pada pandangan
(penglihatan) pertama tidak menemukan jentik, tunggu kira-kira ½ sampai 1 menit
untuk memastikan bahwa benar jentik tidak ada.
c) Untuk
memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil seperti vas bunga/pot
tanaman air atau botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu dipindahkan
ke tempat lain.
d) Untuk
memeriksa jentik di tempat yang agak gelap atau airnya keruh, biasanya
digunakan senter baterai. Ada dua cara survei atau pemeriksaan jentik yaitu:
1) Cara
single larva: survei ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap
tempat genangan air yang ditemukan jentik,untuk diidentifikasi lebih lanjut
jenis jentiknya.
2) Cara
visual: survei ini cukup dilakukan dengan melihat ada tidaknya jentik di setiap
tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya.
3. Ukuran
kepadatan jentik Aedes aegypti
Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik
Ae.Aegypti adalah:
a. House
Index (HI), persentase antara rumah yang ditemukan jentik terhadap seluruh
jumlah rumah yang diperiksa
Jumlah rumah yang ditemukan
jentik
House
Index (HI) = __________________________________
x 100
Jumlah rumah yang diperiksa.
b. Countainer
Index (CI), persentase tempat penampungan air (container) yang ditemukan jentik
terhadap seluruh container yang diperiksa.
Jumlah container yangditemukan jentik
Container
Index (CI) =
________________________________ x 100
Jumlah container yang diperiksa
c. Breteau
Index (BI), jumlah tempat penampungan air
yang ditemukan jentik per 100 rumah yang diperiksa.
Jumlah container dengan jentik
Breteau
Index (BI) = __________________________________ x 100
100 rumah yang diperiksa
d. Angka
Bebas Jentik (ABJ), Jumlah rumah rumah yang bebas jentik dibagi rumah yang
diperiksa
Jumlah
rumah yang bebas jentik
Angka
Bebas Jentik (ABJ) = _____________________________ x 100%
Jumlah
rumah yang diperiksa
Kontainer merupakan bejana yang dapat
menjadi tempat perkembangbiakan Aedes aegypti. Angka bebas jentik dan house
index lebih menggambarkan luasnya penyebaran Aedes aegypti disuatu wilayah.
Kepadatan populasi jentik (density figure) diperoleh dari gabungan dari HI, CI
dan BI dengan kategori kepadatan jentik penentuannya adalah sebagai berikut:
a. Density
figure = 1 = kepadatan rendah.
b. Density
figure = 2-5 = kepadatan sedang.
c. Density
figure = 6-9 = kepadatan tinggi.


0 comments:
Post a Comment